Pemerintah Finalisasi Pengalihan Saham KCIC

Pemerintah Siapkan Skema Pengalihan 60 Persen Saham

Kemenkeu Finalisasi Pengalihan Saham KCIC

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan finalisasi pengalihan saham KCIC kini memasuki tahap akhir. Pemerintah berencana mengambil alih 60 persen kepemilikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh yang sebelumnya berada di bawah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Evita Manthovani menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2026. Menurut dia, proses pengalihan masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum pemerintah menyelesaikannya secara resmi. Kemenkeu juga memastikan pembahasan skema sudah berlangsung secara detail. Pemerintah menargetkan proses tersebut berjalan terencana dengan mempertimbangkan kondisi finansial, bisnis, operasional, dan aspek hukum KCIC.

Pemerintah Siapkan Skema Pengalihan 60 Persen Saham

Rencana tersebut mencakup pengalihan 60 persen saham KCIC yang saat ini dikuasai konsorsium BUMN melalui PSBI. Sementara itu, konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd. tetap memegang 40 persen saham. Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa kepemilikan tersebut akan dikelola melalui struktur di bawah Kemenkeu. Proses ini sekaligus mengubah posisi pengelolaan aset Whoosh dalam struktur pemerintah. Namun, pengalihan saham tidak berarti seluruh kewajiban proyek otomatis selesai pada saat transaksi kepemilikan berlangsung. Pemerintah tetap perlu memastikan struktur pembiayaan, nilai aset, hak dan kewajiban, serta mekanisme pengelolaan berjalan sesuai ketentuan.

Pemerintah Siapkan Skema Pengalihan 60 Persen Saham

Due Diligence dan Valuasi Saham Terus Berjalan

Kemenkeu saat ini melakukan due diligence terhadap saham PSBI yang akan dialihkan. Pemerintah juga mengevaluasi nilai saham untuk menentukan dasar pengalihan secara lebih terukur. Selain itu, Kemenkeu memetakan berbagai aspek yang berkaitan dengan keberlanjutan pengelolaan KCIC. Proses tersebut mencakup kondisi finansial, kegiatan bisnis, operasional perusahaan, hingga aspek hukum. Bersamaan dengan kajian tersebut, pemerintah menyusun rancangan Peraturan Presiden sebagai landasan regulasi. Kemenkeu juga terus berkoordinasi dengan Badan Pengaturan BUMN dan Badan Pengelola Investasi Danantara. Dengan tahapan itu, pengalihan saham tidak hanya berfokus pada perubahan kepemilikan, tetapi juga menyiapkan tata kelola setelah proses selesai.

Penyelesaian Utang Whoosh Tetap Menjadi Perhatian

Selain kepemilikan, pemerintah juga menghadapi pembahasan mengenai kewajiban pembiayaan Whoosh. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan isu mekanisme pembayaran utang Whoosh turut dibahas saat bertemu Ketua NDRC Zheng Shanjie di China pada September 2026. Luhut menyebut diperlukan tindak lanjut teknis mengenai struktur pembayaran agar pembahasan dapat berjalan lebih konkret. Pemerintah sebelumnya juga menegaskan bahwa skema pengalihan saham tidak menggunakan APBN secara langsung untuk memenuhi kewajiban PT PSBI. Karena itu, penyelesaian struktur kepemilikan dan pembiayaan menjadi dua agenda yang saling berkaitan dalam penataan proyek Whoosh.

Penyelesaian Utang Whoosh Tetap Menjadi Perhatian

Whoosh Tetap Beroperasi dan Menarik Wisatawan

Di tengah proses finalisasi pengalihan saham KCIC, operasional Whoosh tetap berjalan dan mencatat penggunaan dari penumpang internasional. Data KCIC hingga Agustus 2026 menunjukkan penumpang asal Malaysia menjadi kelompok wisatawan mancanegara terbesar. Pada Januari hingga Agustus 2026, tercatat sekitar 105.100 perjalanan penumpang warga Malaysia atau sekitar 40 persen dari total perjalanan penumpang warga negara asing. Angka tersebut menunjukkan bahwa Whoosh juga berperan dalam konektivitas perjalanan antara Jakarta, Bandung, dan kawasan sekitarnya. Pemerintah kini perlu menyelesaikan aspek kepemilikan, regulasi, pembiayaan, dan operasional secara terintegrasi. Tahap finalisasi menjadi bagian penting sebelum struktur pengelolaan baru dapat berjalan secara penuh.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 3630 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2525 kali

-5%
Original price was: Rp300.000.Current price is: Rp285.000.

👁 3581 kali

-5%
Original price was: Rp300.000.Current price is: Rp285.000.

👁 2559 kali

👁️ Dilihat 11 kali