Transaksi Digital Tumbuh 39,24%, Masyarakat Makin Gemar Nontunai
Perkembangan teknologi keuangan semakin mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 18,09 miliar transaksi pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat 39,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi digital tumbuh 39,24% karena masyarakat semakin terbiasa menggunakan layanan pembayaran melalui ponsel dan berbagai platform elektronik. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa perluasan penerimaan pembayaran digital menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan tersebut. Perubahan ini terlihat dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pembayaran belanja, pembelian makanan, hingga transaksi di toko kecil. Selain menawarkan kecepatan, pembayaran digital membantu konsumen menyelesaikan transaksi tanpa perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar. Bagi pelaku usaha, metode ini juga membuka peluang untuk melayani pelanggan yang lebih menyukai pembayaran nontunai.
Transaksi QRIS Melonjak 75,8%, Pengguna Tembus 70,6 Juta
QRIS menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pembayaran digital nasional. Pada kuartal III 2026, volume transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh 75,80% secara tahunan. Jumlah penggunanya mencapai 70,6 juta, sedangkan merchant yang menerima pembayaran QRIS mencapai 49,4 juta. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa metode pembayaran berbasis kode QR semakin diterima oleh konsumen dan pedagang. Pelaku usaha dapat memanfaatkan QRIS untuk menerima pembayaran tanpa harus menyediakan kode berbeda bagi setiap penyedia layanan yang kompatibel. Selain itu, pencatatan transaksi digital dapat membantu pedagang memantau pemasukan dan mengevaluasi penjualan. Meski demikian, penggunaan QRIS tetap memerlukan kewaspadaan. Pedagang perlu memastikan dana benar-benar masuk ke akun penerima, sementara konsumen harus memeriksa nama merchant dan nominal sebelum mengonfirmasi pembayaran.
Mobile Payments Tumbuh 45,55%, BI-FAST Ikut Menguat
Selain QRIS, pembayaran melalui perangkat seluler juga mencatat perkembangan positif. BI melaporkan volume transaksi mobile payments meningkat 45,55% secara tahunan pada kuartal III 2026. Sementara itu, internet payments tumbuh 14,26%. Perbedaan tersebut menunjukkan kuatnya peran ponsel dalam mendukung aktivitas pembayaran masyarakat. Infrastruktur transfer ritel BI-FAST turut mencatat pertumbuhan signifikan. Volume transaksinya mencapai sekitar 1,63 miliar transaksi atau meningkat 31,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai transaksi BI-FAST juga naik 33,91% menjadi Rp4.049 triliun. Layanan ini membantu masyarakat melakukan transfer dana secara cepat dengan dukungan infrastruktur pembayaran yang tersedia sepanjang waktu. Namun, transaksi bernilai besar melalui BI-RTGS menunjukkan perkembangan berbeda. Nilainya mencapai Rp53.817 triliun, turun 4,62% secara tahunan, meskipun volumenya meningkat 1,31% menjadi 2,79 juta transaksi.
Peluang UMKM Meluas, Keamanan Transaksi Tetap Penting
Peningkatan transaksi digital membuka peluang baru bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan menerima pembayaran digital, pedagang dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada pelanggan sekaligus mengurangi ketergantungan pada uang tunai. Catatan transaksi yang tersimpan secara elektronik juga membantu pelaku usaha mengevaluasi arus kas dan menyusun laporan penjualan. Bahkan, riwayat transaksi yang tertata dapat menjadi informasi pendukung ketika pelaku usaha mengajukan pembiayaan kepada lembaga keuangan. Namun, pembayaran digital tidak otomatis menjamin persetujuan kredit karena setiap lembaga memiliki kebijakan penilaian tersendiri. Di sisi lain, masyarakat harus melindungi akun pembayaran dari penipuan. Gunakan aplikasi resmi, jaga kerahasiaan PIN dan kode OTP, serta hindari memindai QR yang sumbernya tidak jelas. Selanjutnya, periksa riwayat transaksi secara berkala agar pengguna dapat segera mengenali aktivitas yang mencurigakan.
Uang Tunai Masih Dibutuhkan di Tengah Ekspansi Digital
Walaupun pembayaran digital berkembang pesat, uang tunai belum kehilangan perannya. Bank Indonesia mencatat uang kartal yang diedarkan tumbuh 11,77% secara tahunan menjadi Rp1.341 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan uang rupiah masih berjalan berdampingan dengan peningkatan transaksi elektronik. BI terus menjaga ketersediaan uang tunai dengan kualitas layak edar di seluruh Indonesia, termasuk daerah terdepan, terluar, dan terpencil (3T). Langkah tersebut penting karena tidak semua masyarakat memiliki akses internet, perangkat, atau kemampuan menggunakan layanan digital secara optimal. Ke depan, pertumbuhan pembayaran nontunai berpotensi memperkuat efisiensi transaksi dan memperluas akses layanan keuangan. Namun, keberhasilannya juga bergantung pada keamanan sistem, pemerataan infrastruktur, serta edukasi masyarakat. Transaksi digital tumbuh 39,24% menjadi sinyal kuat perubahan kebiasaan pembayaran di Indonesia, sedangkan lonjakan QRIS menunjukkan semakin besarnya peluang digitalisasi bagi konsumen dan pelaku usaha.
👁 4127 kali
👁 2974 kali
👁 3053 kali
👁 2508 kali
👁️ Dilihat 16 kali





