Harga Minyak Dunia Kembali Menggila, Brent Tembus US$117 per Barel
Pergerakan harga minyak dunia kembali mengejutkan pasar energi internasional. Setelah sempat diharapkan melemah seiring pulihnya ekspor minyak Timur Tengah, harga minyak mentah justru kembali melesat mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), minyak mentah Brent untuk kontrak Desember melonjak US$2,76 atau 2,4% menjadi US$117,64 per barel. Bahkan, harganya sempat menyentuh US$118 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,12 atau 2,08% menjadi US$104,12 per barel. Sepanjang Oktober, Brent menguat sekitar 13,6%, sedangkan WTI naik 15,2%.
Menariknya, lonjakan ini terjadi ketika ekspor minyak Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan. Data Vortexa mencatat pengiriman minyak dari kawasan tersebut telah melampaui 17 juta barel per hari dalam sepekan hingga 23 Oktober.
Namun, tambahan pasokan ternyata belum cukup untuk menenangkan pasar. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa harga minyak terus naik ketika ekspor mulai pulih? Apakah aktivitas pembelian China ikut memengaruhi kenaikan tersebut?
China Kembali Borong Minyak, Permintaan Besar Menahan Harga
Salah satu faktor yang menarik perhatian pelaku pasar adalah perubahan strategi pembelian minyak oleh China. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut sempat mengurangi impor minyak mentah secara drastis ketika perang Iran mengganggu distribusi energi.
Pada periode Februari hingga Juni 2026, impor minyak China bahkan turun hampir separuh atau sekitar 6 juta barel per hari. Selain itu, kebijakan pembatasan ekspor produk minyak olahan pada Maret membuat kilang domestik lebih mengutamakan kebutuhan dalam negeri.
Namun, situasi berubah sejak Juni ketika ketegangan geopolitik mulai mereda dan margin pengolahan minyak meningkat. Kilang China kembali meningkatkan pembelian minyak mentah, sementara pemerintah mulai memberikan ruang bagi ekspor produk olahan.
Dalam tiga pekan hingga 16 Oktober, impor minyak China meningkat lebih dari 3 juta barel per hari dibandingkan Juni. Lonjakan pembelian tersebut cukup besar untuk menyerap sebagian tambahan pasokan dari Timur Tengah.
Dengan demikian, ketika produsen mulai memulihkan ekspor, China justru kembali memperbesar permintaannya. Apakah ini permainan China? Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah Beijing sengaja mengatur harga minyak dunia.
Meski begitu, besarnya kapasitas pembelian China memang dapat memengaruhi keseimbangan pasar internasional. Strategi membeli minyak ketika harga lebih menarik juga membuat aktivitas impor negara tersebut menjadi indikator penting bagi investor energi.
Ongkos Pengiriman Melonjak, Harga Minyak Semakin Sulit Turun
Selain permintaan China, mahalnya biaya pengiriman menjadi faktor lain yang membuat harga minyak tetap tinggi. Perdagangan minyak internasional tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga kemampuan mengirimkan minyak dari negara produsen menuju kilang dan konsumen.
Ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat, perusahaan pelayaran menghadapi risiko keamanan, perubahan rute, keterlambatan pengiriman, serta kenaikan biaya asuransi.
Di sisi lain, China lebih banyak memanfaatkan pembelian di pasar spot dibandingkan mengandalkan jadwal pengiriman yang konsisten. Pola tersebut membuat kebutuhan kapal tanker sulit diprediksi.
Bahkan, sejumlah kapal harus menunggu berhari-hari untuk memperoleh muatan atau memindahkan minyak ke kapal lain di kawasan Teluk Oman. Akibatnya, ketersediaan armada pengangkut semakin terbatas.
Menurut data yang dikutip dari Argus Media, biaya pengiriman yang sebelumnya hanya menyumbang sekitar 4% hingga 7% dari biaya minyak yang sampai kepada pembeli China meningkat menjadi 25% hingga 30% pada Oktober.
Kenaikan ongkos angkut tersebut juga menciptakan perbedaan harga minyak antarwilayah. Produsen Amerika Latin dan Afrika Barat harus menawarkan diskon lebih besar karena jarak pengiriman yang jauh.
Sebaliknya, produsen di kawasan Laut Utara memiliki peluang mempertahankan harga lebih tinggi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa harga minyak bukan hanya ditentukan oleh produksi dan konsumsi. Faktor transportasi serta keamanan jalur perdagangan juga memiliki pengaruh besar.
Konflik Iran dan Serangan di Selat Hormuz Memicu Premi Risiko
Faktor geopolitik masih menjadi alasan kuat di balik mahalnya harga minyak dunia. Pasar belum sepenuhnya percaya bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat akan berakhir dalam waktu dekat.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz pada Jumat (30/10/2026). UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena perangkat peledak yang dipasang melalui kapal kecil.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun, kejadian ini langsung menarik perhatian pedagang energi karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan minyak internasional.
Selain itu, ancaman serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah fasilitas energi Arab Saudi turut memperbesar kekhawatiran pasar. Infrastruktur seperti Ras Tanura, Rabigh, dan Abqaiq menjadi perhatian karena memiliki peran penting dalam produksi maupun distribusi minyak.
Situasi tersebut membuat investor bersedia membayar lebih mahal untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan. Bahkan, JPMorgan Chase memperkirakan harga Brent mengandung premi risiko sekitar US$20 per barel dibandingkan nilai wajarnya.
Artinya, sebagian kenaikan harga bukan semata-mata mencerminkan permintaan aktual, melainkan juga kekhawatiran terhadap kemungkinan memburuknya konflik.
Apabila ketegangan mereda, harga minyak berpotensi terkoreksi. Sebaliknya, serangan besar yang kembali mengganggu produksi dan pengiriman dapat mendorong Brent menuju US$130 hingga US$140 per barel menurut skenario yang disampaikan Jim Burkhard dari S&P Global.
Dampak Harga Minyak Dunia bagi Indonesia, BBM dan APBN Jadi Sorotan
Lonjakan harga minyak dunia tentu menjadi perhatian Indonesia karena kebutuhan energi dalam negeri masih bergantung pada impor. Ketika harga minyak meningkat, biaya pengadaan energi berpotensi ikut membengkak.
Tekanan tersebut dapat semakin besar apabila rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Selain itu, pemerintah perlu memperhitungkan konsekuensinya terhadap subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.
Kenaikan harga minyak mentah tidak otomatis membuat harga BBM di Indonesia langsung berubah. Pemerintah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk harga produk olahan, kurs, biaya distribusi, dan kebijakan energi nasional.
Per Oktober 2026, Pertamina masih mempertahankan harga BBM sesuai ketetapan yang berlaku. Namun, apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu panjang, tekanan terhadap biaya transportasi, industri, dan distribusi barang berpotensi meningkat.
Di sisi lain, kenaikan harga energi juga dapat membuka peluang bagi perusahaan sektor migas dan komoditas energi tertentu. Meskipun demikian, keuntungan setiap perusahaan tetap bergantung pada struktur biaya dan kemampuan produksinya.
Oleh karena itu, investor perlu mencermati perkembangan impor minyak China, keamanan Selat Hormuz, keputusan OPEC+, persediaan minyak global, serta pergerakan rupiah.
Pada akhirnya, tingginya harga minyak bukan semata-mata akibat dugaan permainan China. Kombinasi lonjakan permintaan, mahalnya ongkos pengiriman, rendahnya persediaan global, dan ketidakpastian perang telah menciptakan tekanan berlapis.
Selama risiko pasokan belum benar-benar menghilang, pasar minyak dunia berpotensi tetap bergejolak hingga memasuki 2027.
👁 4180 kali
👁 3026 kali
👁 3068 kali
👁 3448 kali
👁️ Dilihat 12 kali





