Low Tuck Kwong Kembali Masuk Jajaran Teratas
Low Tuck Kwong kembali menjadi sorotan setelah Forbes memperbarui daftar miliarder pada September 2026. Dalam snapshot yang dirujuk pada 17 September 2026, kekayaan pengusaha Bayan Resources tersebut tercatat sekitar US$16,4 miliar. Angka itu menempatkannya sangat dekat dengan Prajogo Pangestu yang juga mencatat US$16,4 miliar. Forbes menjelaskan bahwa sistem Real-Time Billionaires memperbarui nilai kekayaan berdasarkan perubahan harga saham dan kepemilikan aset yang relevan. Karena itu, posisi serta nilai kekayaan para miliarder dapat berubah dari waktu ke waktu.
Kekayaan Berasal dari Bisnis Bayan Resources
Sebagian besar kekayaan Low Tuck Kwong berkaitan dengan kepemilikannya di Bayan Resources, perusahaan pertambangan batu bara yang berkembang menjadi salah satu pemain besar di Indonesia. Perjalanan bisnisnya bermula dari sektor konstruksi sebelum berkembang ke industri pertambangan. Ia membangun Jaya Sumpiles Indonesia dan kemudian memperluas aktivitas bisnis ke pertambangan batu bara. Bayan selanjutnya tumbuh melalui pengembangan tambang dan berbagai aset pendukung. Perusahaan tersebut memiliki operasi utama di Kalimantan, termasuk kawasan Tabang di Kalimantan Timur. Selain bisnis batu bara, pengusaha tersebut juga memiliki kepentingan pada sektor energi dan sejumlah usaha lainnya. Forbes pada September 2026 turut menyoroti perubahan kekayaannya seiring pergerakan nilai saham Bayan Resources.
Rencana Pengalihan 30 Persen Saham BYAN
Perhatian terhadap Low Tuck Kwong semakin besar setelah muncul kesepakatan bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama. Perusahaan yang berkaitan dengan Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam tersebut menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat pada 16 September 2026. Berdasarkan informasi yang disampaikan Bayan Resources, saham yang menjadi objek transaksi mencapai 10.000.000.500 lembar atau sekitar 30 persen dari saham perseroan. Saham tersebut berasal dari kepemilikan Low Tuck Kwong bersama putrinya, Elaine Low. Namun, transaksi belum otomatis selesai karena para pihak masih harus memenuhi sejumlah kondisi pendahuluan. Dengan demikian, perubahan kepemilikan tersebut perlu menunggu penyelesaian seluruh persyaratan dalam perjanjian.
Perjalanan dari Kontraktor hingga Pengendali Bayan
Perjalanan bisnis Low Tuck Kwong di Indonesia berlangsung dalam beberapa tahap. Ia lebih dahulu membangun usaha kontraktor melalui Jaya Sumpiles Indonesia sebelum memasuki industri batu bara. Hubungannya dengan bisnis Gunung Bayan kemudian menjadi bagian penting dalam pembentukan Bayan Resources. Pada akhir 1990-an, ia mengambil alih kepemilikan perusahaan pertambangan tersebut dan mulai memperkuat kendali atas aset batu bara. Perjalanan itu juga pernah menghadapi sengketa hukum dengan pihak keluarga Haji Asri terkait transaksi dan kerja sama kepemilikan Gunung Bayan. Pengadilan menolak gugatan tersebut, sementara proses hukum berikutnya juga tidak mengubah posisi kepemilikan yang dipersoalkan. Setelah melewati berbagai tahap tersebut, bisnis Bayan terus berkembang hingga menjadi sumber utama kekayaan pendirinya.
Posisi di Daftar Orang Terkaya Indonesia
Daftar Forbes pada September 2026 menunjukkan ketatnya persaingan nilai kekayaan di antara para pengusaha besar Indonesia. Prajogo Pangestu dan Low Tuck Kwong sama-sama tercatat sekitar US$16,4 miliar, sedangkan R. Budi Hartono berada di kisaran US$16,1 miliar. Anthoni Salim menyusul dengan sekitar US$11 miliar, kemudian Tahir dan keluarga sekitar US$9,6 miliar. Sri Prakash Lohia mencatat sekitar US$8,8 miliar, Otto Toto Sugiri US$8 miliar, Marina Budiman US$5,7 miliar, Lim Hariyanto US$5,1 miliar, serta Theodore Rachmat sekitar US$4,9 miliar. Angka tersebut merupakan gambaran pada waktu pembaruan dan bukan nilai kekayaan yang bersifat tetap. Pergerakan saham, nilai perusahaan, serta perubahan kepemilikan aset dapat membuat posisi para miliarder berubah dengan cepat.
👁 3604 kali
👁 2211 kali
👁 2504 kali
👁 3246 kali
👁️ Dilihat 23 kali




