Dolar Amerika Serikat Jadi Sorotan
Dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah. Ekonom Ferry Latuhihin menyebut mata uang tersebut sebagai aset yang perlu dipertimbangkan untuk menghadapi ketidakpastian selama satu tahun ke depan. Pandangan itu muncul ketika kebutuhan dolar di dalam negeri meningkat. Salah satu pemicunya ialah tingginya biaya impor minyak. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% dari PDB pada kuartal II 2026. Angka tersebut melebar dari defisit US$3,6 miliar pada kuartal sebelumnya.
Impor Minyak Tekan Transaksi Berjalan
Selanjutnya, harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Indonesia masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Ketika harga minyak meningkat, nilai pembayaran impor ikut bertambah. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan kebutuhan valuta asing, terutama dolar AS. Bank Indonesia juga menyebut kenaikan impor minyak akibat harga minyak dunia yang tinggi sebagai salah satu faktor pelebaran defisit transaksi berjalan. Selain itu, impor nonmigas yang meningkat turut menekan neraca eksternal Indonesia. Ferry menilai tekanan tersebut dapat memberikan tantangan tambahan bagi rupiah. Karena itu, ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan dolar Amerika Serikat sebagai bagian dari aset yang dimiliki.
Rekening Dolar Masyarakat Meningkat
Di sisi lain, minat masyarakat terhadap simpanan valuta asing juga menunjukkan peningkatan. Data Lembaga Penjamin Simpanan yang dikutip dalam pemberitaan menunjukkan jumlah rekening dolar mencapai 8.918.054 rekening pada Mei 2026. Jumlah tersebut tumbuh 58,2% secara tahunan. Pertumbuhan rekening dolar juga jauh lebih tinggi dibandingkan rekening rupiah yang meningkat 8,4% pada periode yang sama. Kenaikan tersebut terutama berasal dari rekening dengan nominal simpanan lebih dari Rp5 miliar. Anggito Abimanyu dari LPS mengatakan kenaikan pada kelompok simpanan besar menjadi salah satu pendorong pertumbuhan rekening dolar.
Simpanan Valas Tumbuh Lebih Cepat
Pertumbuhan simpanan valuta asing juga terlihat dari sisi nominal. Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan tersebut, nominal simpanan valas tumbuh 18,7% secara tahunan menjadi sekitar Rp1.714,76 triliun pada Mei 2026. Sementara itu, nominal simpanan rupiah tumbuh 12,4% menjadi sekitar Rp8.615,16 triliun. Perbedaan pertumbuhan tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian sebagian nasabah terhadap aset berbasis mata uang asing. Namun, LPS menyatakan kenaikan rekening dolar pada Mei belum berasal dari penerapan penuh kebijakan Devisa Hasil Ekspor atau DHE yang baru. Menurut Anggito, arus DHE tersebut baru efektif masuk setelah periode berikutnya.
Rupiah dan Pilihan Aset ke Depan
Sementara itu, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pasar. Pada Jumat, 18 September 2026, rupiah ditutup menguat tipis ke sekitar Rp17.730 per dolar AS menurut data Refinitiv yang diberitakan media nasional. Rupiah tetap mencatat pelemahan sekitar 0,82% sepanjang pekan tersebut. Kondisi itu membuat aset berbasis valuta asing kembali mendapat perhatian. Ferry juga menyebut dolar Australia dan dolar Singapura sebagai alternatif yang dapat dipertimbangkan. Meski demikian, pilihan aset tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, jangka waktu, risiko kurs, serta tujuan keuangan masing-masing. Dolar Amerika Serikat dapat menjadi bagian dari diversifikasi, tetapi nilai tukarnya tetap bergerak mengikuti kondisi pasar global dan domestik.
👁 3616 kali
👁 2514 kali
👁 1714 kali
👁 1926 kali
👁️ Dilihat 14 kali





